Selasa, 06 Januari 2015

TUGAS SOFTSKILL 3 : BULLYING VERBAL

Diposting oleh Tita di 07.06 0 komentar
 NAMA : TITA SRI HANDAYANI
NPM : 27112401
KELAS : 3KB01
TUGAS SOFTSKILL BAHASA INDONESIA
TEMA : HAK ASASI MANUSIA


Sejak nenek moyang kita, kita adalah bangsa yang luar biasa, yang disegani di seluruh dunia. Tak bisakah kita bersama-sama membangun kembali kejayaan itu?


Hak asasi manusia akan selamanya dibawa oleh setiap individu. Di zaman yang semakin maju ini HAM sering dilupakan. Banyak diantara kita yang hak nya dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Diantaraanya bullying.
Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat  untuk menggambarkan fenomena Bullying di antaranya adalah penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi (Susanti, 2006).

Bullying sendiri terkadang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya , hubungan keluarga, teman sebaya, dan pengaruh media ( TV, radio, media massa dan lain-lain).

Hasil studi  yang dilakukan National Youth Violence Prevention Resource Center (Sanders, 2003:118) menunjukkan bahwa bullying dapat membuat remaja merasa cemas dan ketakutan, mempengaruhi konsentrasi belajar di sekolah dan menuntun mereka untuk menghindari sekolah. Bullying juga bisa membuat korban menjadi suka marah-marah dan selalu membenci orang-orang disekitarnya. Rasa depresi akan selalu menghantui korban bullying ini.

Salah satu bentuk bullying yang sering terjadi diantara para pelajar adalah bullying yang dilakukan secara verbal. Korban bullying terutama yang berbentuk verbal, seperti ejekan, pelecehan menggunakan kata-kata kasar, dan lain sebagainya, biasanya akan mengalami trauma berkepanjangan sehingga mempengaruhi kemampuannya dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Karena pernah menjadi korban bullying verbal, saya menjadi tahu persis apa saja dampak yang ditimbulkan. Secara tidak langsung perilaku bullying verbal sangat mempengaruhi psikis korban karena dampaknya yang berkelanjutan dan mempengaruhi aspek-aspek lainnya. Korban bullying verbal biasanya mengalami perasaan minder terhadap orang lain dan krisis kepercayaan diri. Pada saat SMA saya mengalami bullying verbal dan itu sangat membuat saya frustrasi. Nilai saya turun dan prestasi saya merosot tajam ditambah dengan rasa percaya diri saya yang semakin hari semakin menghilang. Saya sangat tidak terima atas perlakuan bullying verbal tersebut. Namun saya tidak mempunyai keberanian untuk melawan pada waktu itu. Saya hanya bisa menghibur diri dengan buku-buku bacaan dan lambat laun akhirnya saya kembali mendapatkan minat belajar yang hilang akibat frustrasi. Saya ingin membuktikan kepada mereka – pelaku bullying verbal – bahwa saya tidak seperti yang mereka pikirkan. Nilai mata pelajaran saya semakin hari semakin meningkat dan banyak prestasi yang saya raih pula. Semakin saya ditindas, semakin saya ingin menunjukan bahwa saya bukan seperti yang mereka pikirkan.

Saya adalah salah satu contoh korban bullying yang sangat beruntung bisa mendapatkan kepercayaan diri saya kembali. Bagaimana dengan para korban bullying di luar sana? Banyak yang tidak seberuntung saya, yang pada akhirnya lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada mengaktualisasi diri. Memang benar, besarnya pengaruh bullying verbal dapat mempengaruhi kondisi fisik dan mental. Padahal kita sebagai pelajar harus memiliki kondisi fisik dan mental yang baik agar dapat memenuhi tugasnya sebagai penerus bangsa. Rasa tidak percaya diri yang muncul pada para korban bullying membuat mereka semakin terasingkan. Apakah ini baik? Tentu saja tidak. Mereka menjadi takut untuk “berbicara”. Perasaan tertekan seperti saat seluruh dunia mengasingkan dirimu, membuat korban bullying ini menjadi malas untuk mengemukakan pendapat, bahkan menjadi malas untuk berinteraksi satu sama lain.

Bullying memang bukan lah pelanggaran HAM berat. Namun setelah kita mengetahui dampaknya yang sangat besar terhadap kondisi fisik dan mental korban, sudah saatnya kita berteriak “STOP BULLYING!”. Saya rasa harus ada tindakan serius agar perilaku bullying verbal ini tidak terjadi lagi dikalangan pelajar sekolah ataupun di kalangan mahasiswa.

Pesan saya untuk para pelajar yang akan menjadi penerus bangsa, jika kamu mengetahui ada temanmu yang melakukan perilaku bullying verbal terhadap orang lain tolong jangan didiam kan. Jangan hanya diam. Sampaikan  padanya hal-hal yang akan ditimbulkan akibat perbuatannya. Diam tak selamanya emas. Diammu bisa saja membunuhmu. Diam mu, bisa saja membunuh seseorang. Tak ada manfaatnya. Selama itu patut disampaikan, sampaikanlah. Jangan kalah dengan takut, jangan kalah dengan ragu-ragu, atau kalian akan menyesal jika kesempatan untuk menyampaikan kebenaran itu sudah lari dari hadapan kalian.

Kalian semua generasi muda penerus bangsa, ungkapkanlah apa yang ingin kalian ungkapkan. Kalian mampu berbahasa dengan santun, tak perlu lempar batu atau menyabetkan pedang. Kalian semua mampu bertutur dengan keberanian yang mencengangkan, mengapa malah jadinya menyakiti orang lain? Tak layak rasanya para generasi muda yang harusnya ilmunya berguna malah merusak semuanya. Tak kalian lihatkah berita tentang kalian yang memalukan? Kalian punya senjata yang lebih menyakitkan daripada senapan dan lebih diakui, bahasa. Jadi, mana keberanian kalian mengungkapkan pada dunia kalau kalian makhluk paling hebat sedunia? Dengan perilaku bullying verbal? Sudah tidak zaman lah… Memangnya kita bangsa barbar?

Sabtu, 15 November 2014

Mahasiswa Unyu Spesial Hari Pahlawan

Diposting oleh Tita di 08.45 0 komentar




Yaaaay... Selamat Hari Pahlawan untuk seluruh warga Indonesia.

Bagaimana kabar mahasiswa calon penerus bangsa? Semoga masih tetap semangat yaaa :D

Nah, kali ini saya akan membuat sebuah tulisan yang bertemakan tentang hari pahlawan. Hari Pahlawan adalah Hari untuk mengenang jasa para pahlawan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kalau mau cari di google lebih lengkap sok lah banyak kok. 

Jaman dulu pahlawan rela mati demi kemerdekaan Indonesia. Coba kalau anak jaman sekarang ditanya "Kamu rela mati gak demi Indonesia?" Paling jawabannya "aku rela mati kok serius, aku rela mati demi kamu". Tapi omongan itu hanya sekedar rangkaian kata alias modus. Bandingkan dengan para pahlawan yang gak mementingkan nyawa mereka hanya untuk kemerdekaan kita. 



Sekarang tuh kita gak perlu repot-repot angkat senjata dan takut kehilangan nyawa. Indonesia sudah merdeka. Dan nasib bangsa Indonesia ke depannya ada di tangan kita. Kita hanya harus meneruskan perjuangan para pahlawan yang salah satunya adalah dengan berprestasi dalam bidang akademis. 



Kita semua bisa menjadi seorang pahlawan. Pahlawan tidak selalu identik dengan senjata ataupun medan pertempuran.Contohnya saja seorang mahasiswa yang mengikuti olimpiade di negara lain dan menjadi juara dengan membawa nama Negara kita, maka Negara kita akan dikenang di mata dunia. Kita bisa menyebutnya sebagai pahlawan. Bahkan hal yang lebih kecil lagi seperti membuang sampah pada tempat sampah. It's simple!!!



Jangan bersikap masa bodo, mentang-mentang udah merdeka. Kita tetap harus melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa. Agar Indonesia semakin maju dan bermoral.



Marilah kita bersatu dan bahu membahu membangun Indonesia sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing agar bangsa ini bisa bangkit menjadi bangsa yang merdeka lahir-bathinnya, sejahtera ekonominya, dan tumbuh menjadi bangsa yang dahsyat, yang disegani bangsa-bangsa di dunia. Merdeka...!!!

Sekali merdeka tetap merdeka!






Selasa, 21 Oktober 2014

BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA

Diposting oleh Tita di 14.58 0 komentar
TITA SRI HANDAYANI
3KB01 / 27112401

UNIVERSITAS GUNADARMA



Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan juga merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 36 dan disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dewasa ini, sepertinya Bahasa Indonesia sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Sekarang ini semakin marak bahasa gaul dan bahasa modern yang telah menggeser kedudukan Bahasa Indonesia. Tidak ada lagi semangat berapi-api untuk mempelajari bahasa indonesia seperti pada saat jaman sebelum kemerdekaan. Dahulu, pemuda dan pemudi Indonesia dengan tekad yang kuat berjuang untuk mempersatukan Indonesia dari sabang sampai merauke dan tercetuslah sebuah sumpah yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Isi dari sumpah pemuda tersebut salah satunya adalah seluruh pemuda Indonesia bersumpah untuk menjunjung suatu bahasa yang akan mempersatukan bangsa Indonesia, bahasa yang akan menjadi bahasa seluruh warga Negara Indonesia, Bahasa Indonesia.

Salah satu faktor yang menyebabkan Bahasa Indonesia mulai ditinggalkan adalah maraknya penggunaan bahasa gaul atau bahasa modern di dalam dialog pada sebuah sinetron. Bahasa gaul (prokem) adalah ragam Bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul (Wikipedia). Berdasarkan sejarahnya bahasa ini adalah bahasa sandi yang digunakan oleh anak jalanan atau preman/prokem (pr+OK+em+an= prokem; dua fonem terakhir dihilangkan). Bahasa gaul (prokem) mengawali popularitasnya pada tahun 1998 (Ajip Rosidi). Ternyata seiring perkembangannya bahasa para prokem ini menjadi bahasa pergaulan yang penyebarannya sulit untuk dibendung.

Sebagaimana kita ketahui, pertelevisian sangat berperan besar dalam sarana hiburan serta pendidikan. Namun, akhir-akhir ini pertelevisian lebih banyak mengedepankan aspek hiburan ketimbang pendidikan, seperti banyaknya tayangan sinetron. Salah satu sinetron yang ditayangkan oleh TV swasta adalah “Diam-diam Suka”. Pada sinetron ini dialog-dialog “gaul” seperti “bingits”, “Oh my to the God”, “Hel to the lo”, “keles”, sedang marak digunakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda bahkan yang notabennya masih anak-anak berusia 6-12 tahun sangat gemar menggunakan bahasa gaul atau bahasa modern ini. Kata “bingits” yang berarti “banget” sudah tidak sesuai dalam kaidah bahasa indonesia. Di dalam bahasa indonesia, tidak ada kata “banget” yang ada adalah kata “sangat”. Salah satu contoh dialog dalam sinetron tersebut adalah, “Iuuhh, nggak bingits deh”. Menurut saya, dialog tersebut terkesan norak dan menghilangkan arti kata yang sebenarnya dalam Bahasa Indonesia.

Bahasa gaul di acara televisi kita banyak yang salah digunakan pada tempatnya. Akibatnya masyarakat banyak yang meniru dengan berbagai motif seperti sekedar gaya atau ingin dikatakan modern. Peniruan bahasa gaul oleh masyarakat luas di Indonesia tentu saja berdampak negatif terhadap pemakaian bahasa Indonesia secara baik dan benar pada saat ini dan pada masa yang akan datang. Jika tidak ada filterisasi terhadap bahasa gaul ini, maka kita harus siap-siap menerima kehancuran masa depan Bahasa Indonesia.

Satu diantara banyak jalan keluar adalah pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah harus lebih memadai. Materi pembelajaran Bahasa Indonesia harus mempunyai prioritas yang utama. Tujuan pokok belajar Bahasa Indonesia harus diterapkan. Selain itu, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana menarik minat baca peserta didik terhadap buku-buku bahasa dan sastra Indonesia. Karena dengan itu niscaya perkembangan bahasa gaul dapat dibendung. Harus ada sinkronisasi dan kerjasama berbagai pihak entah itu akademisi, pelajar, pejabat pemerintah, serta lembaga terkait agar penggunaan Bahasa Indonesia mencapai entitas utamanya. Kuncinya adalah penting untuk setiap rakyat Indonesia untuk memiliki kecintaan terhadap Bahasa Indonesia.


Sebenarnya Bahasa Indonesia mempunyai banyak kelebihan, diantaranya :
  • Dengan menggunakan bahasa yang baik akan membuat lawan bicara mudah mengerti dengan apa yang kita bicarakan.
  • Berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan terlihat sangat berwibawa dan berpendidikan.
  • Meningkatkan efisiensi dalam penggunaan kosa kata (tidak terjadi pengulangan kata dan bermakna ambigu).


Ada sebuah peribahasa yang mengatakan mengatakan, “Budi bahasa atau perangai serta tutur kata menunjukkan sifat dan tabiat seseorang”. Yang artinya kurang lebih adalah “baik buruk kelakuan menunjukkan tinggi rendah asal atau keturunan”.


Melihat akan bahayanya bahasa yang digunakan oleh pesinetron dan para pembawa acara televisi, saya menyarankan kepada pembaca agar selalu waspada terhadap pencemaran Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh para pesohor tersebut. Jika dibiarkan mereka akan lebih semena-mena melakukan “perkosaan” terhadap Bahasa Indonesia. Dengan terbentuknya generasi cerdas dan kompetitif, Bangsa Indonesia akan mudah dalam proses pembangunan yang hingga saat ini, masih digalakkan di berbagai bidang kehidupan. Karena itulah diharapkan para generasi penerus bangsa ini harus mendapatkan pemahaman betapa pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia terhadap kemajuan Bangsa Indonesia. Dengan pemahaman itu, generasi penerus bangsa ini dengan sendirinya akan menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia dalam rangka mewujudkan Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju dan makmur secara merata di berbagai bidang kehidupan. 

Selasa, 04 Februari 2014

Kita putus!

Diposting oleh Tita di 03.47 2 komentar

"It's ok kok. Gapapa kita putus." (Noval, 2 februari 2014)

Itu katamu kemarin lusa. Setelah aku minta mengakhiri hubungan jarak jauh ini. Hanya sesingkat itu balasan sms mu. Bahkan kamu gak tanya alasan kenapa aku minta putus. Dua hari sudah aku tunggu... Tunggu kamu tanya alasan itu, tapi kamu gak ada kabar sama sekali. Mungkin cuma aku yang sakit hati, sedangkan kamu disana senang-senang sama perempuan lain. Mungkin juga kamu sudah merencanakan sesuatu, setelah satu bulan lalu kamu seakan menjauhiku, apa aku yang sensi ingin diperhatikan. Iya, kita sibuk memang, kamu dengan pekerjaanmu, aku dengan jadwal kuliahku. Iya, kita jauh memang, kamu di timur, aku dibarat. Aku gak tau kamu setia atau malah sebaliknya. Aku pun curiga. Yaaah, seperti biasa kamu meyakinkan aku, seperti anak kecil yang diberi ice cream. Aku percaya kamu gak "main".

Lagi... Lagi...... Aku percaya.

Ini namanya apa?? Sayang?? Cinta?? Suka??

Aku lelah, noval. Aku menyerah dengan hubungan jarak jauh ini. Mungkin ini terakhir kalinya aku bilang putus. Dan kamu bisa bebas bereksplorasi dengan banyak perempuan lain, dan aku bisa bebas meluapkan sakit hati ini dengan caraku.

Aku gak mau kejadian tiga bulan lalu terulang lagi. Saat kamu menginginkan bibir ku dan bibir mu bersentuhan. Aku bilang tidak. Kamu memaksa. Aku menolak. Kamu tetap memaksa. Dan aku pergi........ Aku tau kamu kesal. Tapi hubungan jarak jauh ini masih berlanjut. Di kotamu, kamu malah bersenang-senang. Bukan dengan ku tapi dengan perempuan bayaran mu. Kamu habiskan lima gelas bir. Dan aaaahh... Kamu mengkhianati ku dengan cara yang paling biadab.

Kamu menelepon ku, sedang dalam keadaan setengah hangover. Kamu menceritakan kronologi nya, seperti sedang mendongengkan anak kecil.

"Perempuan itu yang minta, katanya mau diajak tidur tanpa dibayar" kamu mengelak..

"YAUDAH KENAPA GAK TIDUR BARENG DIA AJA SANA" aku balas..

"Aku gak mau, gak mood. Aku mau nya sama kamu" katamu.

"Lanjutin aja sana, pengen dicium kan, tuh, ada yang mau. Sekalian nikah sama tuh cewek juga gapapa. Gue gak peduli" aku kesal, marah, sakit hati. Aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya sesak.

"Udah aku bilang aku gak mood. Aku mau nya sama kamu titik. Lagian dia tadi cuma (***sensor***) aku doang kok" kamu menaikkan nada suaramu. Dan aku menangis semakin kencang. Aku berharap operator seluler memutuskan sambungannya, tapi tidak.

"Aku sayang kamu, tapi kamu cium aku aja gak mau. Kamu sayang gak sih sama aku?" Kamu melanjutkan kata-katamu.

Aku masih tetap menangis, mendengarkan ocehannya.

"Aku sayang kamu, noval. Tapi gak begitu caranya. Udahlah sekarang kamu sama dia aja. Mau mati kek, mau masuk jurang kek, ngapain aja terserah aku gak peduli. Jangan hubungin aku lagi" aku gak tau harus bilang apalagi.

"Nikah? Kan aku udah bilang, aku mau nya sama kamu. Kamu gak ngerti ya daritadi aku ngomong" katamu lagi.

Aku muak. Aku tutup telepon ku. Aku menangis. Bodoh!!! Kamu bodoh.

Selama satu minggu aku buang air mataku. Aku pikir dunia mengutukku. Aku harus bangkit. Tak usah diceritakan bagaimana rasanya. Anggaplah sebuah kaca yang dijatuhkan dari gedung berlantai tujuh. Hancur.

Setelah gelar move on disematkan kepadaku, kamu muncul. Memohon, minta maaf, merayu, segala hal kamu lakukan untuk melanjutkan hubungan jarak jauh yang kemarin delay. Aku menolak. Tapi aku sayang. Kamu membuat sebuah janji, aku mengiyakan. Sekarang akulah yang bodoh. Aku gak belajar dari kejadian kemarin. Aku sayang, sayang banget.

Akhirnya menjadi "kita" lagi. Kamu lebih baik, lebih menghargai aku, lebih perhatian. Kamu lebih sering berbicara tentang masa depan. Tentang kamu menjadi ayah, dan aku menjadi ibu. "Nanti kalo kamu udah lulus aku lamar kamu ya. kita nikah" itu salah satu kata-katamu. Aku cuma bisa meng-amin-i saja.

Tujuh bulan lalu saat kita pertama kali memulai hubungan ini kamu juga bilang "sayang, kapan kita nikah". Aku berucap "kapan-kapan ya". Dan kamu membalas "sekarang kan kamu masih kuliah, 2 tahun lagi aku lamar kamu".

Itu cuma ucapan kan. Buktinya sekarang kita udah jalan masing-masing. Kamu itu kesalahan. Kesalahan yang gak pernah bisa aku ubah.

Sekarang kamu harus tetap berjalan lurus tanpa aku. Aku gak akan lagi berkata salah ketika kamu salah, aku juga gak akan lagi membenarkan kesalahanmu. Aku gak bisa bikin kamu jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Cari... Cari perempuan yang benar-benar sejalan dengan logikamu. Yang berpikiran bahwa ciuman adalah tanda sayang. Aku lelah. Selamat ulangtahun.

Tanpa kamu sadari, aku adalah aura merah muda mu (Juli 2013 - Februari 2014

Kamis, 10 Oktober 2013

Diary of Ata Apollo Arcturus Part II

Diposting oleh Tita di 19.58 0 komentar

Sekolah adalah keterpaksaan, untukku. Aku lebih senang membaca ensiklopedia di perpustakaan ketimbang harus mendengarkan guru ku bercuap-cuap. Aku lebih senang belajar dari alam ketimbang harus mendengarkan guru ku bercuap-cuap. Ingin mengeluh pun tak bisa, karena aku sudah begitu sering mengeluh. Apalagi tentang sekolah. Sejak umurku 5 tahun aku benci harus belajar diruang kotak. Ruangan yang membatasi antara aku dan alam. Dan belajar itu rasanya membosankan. Mengapa harus membaca untuk belajar, saat seluruh dunia membentangkan keajaiban dikaki kita? Jadi aku mensugestikan pikiranku dengan menganggap bahwa sekolah adalah sebuah jawaban indah atas segala masalah-masalah yang aku rasakan selama ini.

Ada cerita saat aku duduk dibangku kelas XI. Seperti biasa, pagi itu aku berangkat menuju sekolah. Tapi ada yang membuatnya berbeda, ada sesuatu yang membuatku khawatir. Bukan karena ujian akhir semester yang menungguku untuk dikerjakan. Aku tau sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku bertanya pada pikiranku namun ia enggan memberitahukannya. Pikiranku seperti mengatakan “Kau tau. Tapi kau tidak mau tau. Kau bisa mengartikan apa saja. Tapi kau malah bersikap masa bodo. Tunggulah sesuatu yang akan terjadi nanti. Dan kau akan menyadari hal itu. Apa kau tau betapa pentingnya dirimu? Kau harus secepatnya menyadari hal itu”. Seseorang dalam pikiranku lagi-lagi bergumam. Sering sekali aku mengalami hal ini. Yaah seperti pikiranku mempunyai pikirannya sendiri untuk berpikir. Aku mengabaikan hal tersebut, tapi aku tidak bisa. Padahal seharusnya aku fokus pada ujian akhir semester yang akan kuhadapi. Karena aku tau sesuatu akan terjadi dan aku tidak bisa fokus. Di sepanjang perjalanan aku memikirkan tentang apa yang akan terjadi nanti, tentang masa depan, menyingkirkan rumus-rumus fisika yang sudah aku program didalam otakku. Dan aku tau hasil ujian ku kali ini akan sangat tidak memuaskan.

Sesampainya disekolah, dengan wajah tanpa ekspresi, aku memasuki ruangan kotak tempatku melaksanakan ujian akhir semester pada waktu itu. Awalnya aku mengerjakan ujian dengan santai. Sampai pada saat aku menyadari bahwa atmosfer disekelilingku terasa begitu menyesakan. Ditengah-tengah waktu ujian napasku terasa sangat berat dan sesak, tubuhku menggigil, kakiku mengetuk-ngetuk lantai, aku merasa gelisah. Aku menjatuhkan pensil dari tangan kananku dan saat aku mengangkat kepalaku aku merasa sangat pusing serta penglihatanku agak kabur. Keringat bercucuran dari tubuhku tapi aku menggigil hebat. Aku tidak bisa fokus mengerjakan soal-soal fisika yang ada dihadapanku karena kepalaku sangatlah pusing. Semua pertanyaan muncul dipikiranku “Dimana kau seseorang dalam otakku, tapi apa aku gila karena aku berbicara dengan pikiranku sendiri, tapi keadaan apa ini, apa yang sebenarnya terjadi, apa, apa, apa??”. Mataku di penuhi oleh air mata. Dan aku hanya bisa meletakkan kepalaku diatas meja.

Sampai pada titik maksimal aku memaksa tubuhku, memaksa pikiranku, memaksa atom-atom di sekitarku untuk bangun dan bekerja kembali. Aku merasa sangat bodoh saat itu. Aku hanya bisa memelototi angka-angka, gambar katrol serta perintah-perintah memuakkan lainnya. Apa? Aku kerjakan semuanya. Dengan rumus, dengan feeling, dengan menghitung kancing atau lantai. Yah hanya sampai LJK ku dipenuhi bulatan-bulatan hitam. Benar atau salah, aku hanya bisa pasrah. Karena sebenarnya bukan fisika yang sedang berputar-putar di otakku, melainkan sebuah film yang belum pernah ku tonton.

Aku lega karena semua kekacauan ini telah berakhir!!! Oh tidak tidak, belum berakhir sampai disitu. Belum berakhir hanya karena fisika telah selesai dikerjakan. Aku masih bertanya.. bertanya.. bertanya.. dan terus bertanya.. “Seseorang dalam pikiranku, cepatlah muncul. Film apa tadi yang berputar di otakku?”. Dan aku seperti makhluk asing.

Sesampainya dirumah aku melihat berita. Berita tentang gempa bumi, bukan bukan, melainkan tsunami yang terjadi di Jepang. Aku melihat berita tersebut, kejadian yang sebenarnya, letak dan bentuk gedung, semuanya sama. Kejadiannya, saat air datang, saat semua tertutup air, sama seperti film yang aku tonton saat ujian fisika tadi, seperti film yang berputar di otakku, di pikiranku. Lalu apa? Aku hanya bisa berkata “Hah? Gue deja vu. Eh, bukan, gue pernah liat film ini. Eh, ini film atau bukan sih?”. So, ini kebetulan yang kesekian kalinya. Terkadang aku menonton sebuah film saat aku tertidur, dan waktu aku melakukan aktivitas dipagi harinya, film itu terjadi sama seperti yang diputar saat aku tidur. Akhir-akhir ini sering dan intensitasnya meningkat. Terkadang seperti tv dengan layar hitam-putih, terkadang seperti tv dengan warna-warna yang tajam. Bahkan terkadang seperti 4 dimensi.

Ahh, kau tau rasanya menonton film yang menyedihkan? Maksudku film yang hanya membuat kita sedih. Tidak ada akhir bahagia, tidak seperti drama korea yang menyedihkan namun berakhir bahagia. Hanya kesedihan. Hanya itu yang selalu di putar oleh otakku. Hanya film sedih. Seperti kematian, bencana, atau hal-hal menyedihkan lainnya. Seperti melihat sesuatu yang akan terjadi.Dan sakit kepala rutin yang selalu muncul ketika keadaan sedang tidak baik.

Ujian tulis yang seharusnya bisa ku kerjakan, semuanya terhambat dan dengan hasil yang sangat tidak memuaskan.



Terinspirasi dari sebuah kisah nyata seorang gadis yang sampai detik ini masih menyimpan dengan rapih impian terbesarnya.

Diary of Ata Apollo Arcturus Part I

Diposting oleh Tita di 19.54 0 komentar

Nama awalku terdiri atas tiga huruf dan bukan sekedar tiga huruf yang dirangkai. Tetapi jika ditanya apa artinya, itu tidak ada artinya. “Kau harus mengartikannya satu demi satu huruf tersebut” itu kata Ibuku. Tapi singkatnya Ibuku selalu mengartikan namaku sebagai sebuah harapan di dalam kehidupan.

Ata Apollo Arcturus – nama yang tidak lazim di dengar, bukan? Ata, anggap saja seorang pemimpi dan pencetus yang brilian. Hanya satu mimpi yang masih tersimpan rapih di dalam pikiranku, yaitu mewujudkan kehidupan yang damai di dalam cahaya cinta dan kasih. Selalu ada harapan dan hari esok, itulah aku. Untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut haruslah melewati sebuah proses dan tentunya motivasi dari orang-orang disekitarku. Seperti perjalanan antariksa yang membutuhkan sebuah proses serta “alat pendukung” yang aku ibaratkan sebagai motivasi. Alat pendukung untuk perjalanan antariksa adalah sebuah roket. Mungkin Ibuku tergila-gila pada Apollo sehingga menyelipkannya kedalam namaku. Sedangkan Arcturus? Ahh siapa yang tidak tau bintang yang satu ini. Sebuah tempat dijagad raya yang dihuni oleh sekelompok E.T yang disebut Arcturian dengan tingkat spiritualitas dan tingkat dimensi diatas manusia Bumi. Mereka hidup didalam dan menuju cahaya yang dengan kata lain kehidupan mereka pasti sangatlah damai.

****

Aku menggenggam kuas. Tapi tak bisa untuk melukiskan pelangi dan menjadikannya nyata. Aku mempunyai pikiran. Tapi hanya bisa merefleksikan pelangi dan tidak bisa menjadikannya nyata. Lalu apa yang bisa kuperbuat? Aku hanyalah seorang yang hanya bisa berharap sampai pada suatu hari aku menyadari sesuatu... .

Umurku lima tahun pada saat pertama kali aku merasa diriku “berbeda” dari orang lain. Secara fisik aku hanyalah gadis kecil biasa sama seperti gadis kecil seumuranku lainnya tapi aku berpikir dan aku merasa bahwa aku bukanlah gadis kecil biasa, aku bukan anak yang biasa. Aku tidak sama seperti anak-anak lain. Aku berbeda. Aku lebih. Paranoid kah? Aku mengalami krisis jati diri pada saat itu. Aku gadis kecil tapi aku seperti bukan gadis kecil. Proses pencarian jati diri itu membuang waktu bermain ku dan menguras banyak tenaga untuk berpikir. Dan itu terjadi selama 12 tahun lamanya. Setiap hari aku diliputi oleh sesuatu yang aku pikir sangatlah tidak rasional.

Rentetan peristiwa yang menurutku sangat membingungkan dan sangat sulit dipahami oleh anak yang baru saja berumur lima tahun. Aku, sikapku, perkembangan otakku, kepribadianku, lebih tua dari umurku yang seharusnya. Sementara anak-anak lain seumuranku sibuk bermain dengan boneka kesayangannya, aku malah sibuk bermain-main bersama ilmu pengetahuan. Tiga rak buku yang semuanya terisi penuh oleh buku-buku ensiklopedia. Aku sudah bisa membaca dengan sangat lancar saat itu. Ibuku tidak merasakan keanehan pada diriku, setauku. Mungkin Ibuku berpikir kalau aku memang dilahirkan dalam keadaan “cerdas”. Aku senang karena aku lebih maju satu langkah dibanding teman-temanku. Tapi aku takut akan “sesuatu” dalam diriku yang tak bisa ku mengerti pada saat itu. Mencari sebuah teori untuk menjelaskan keadaanku telah aku lakukan sejak umurku lima tahun atau lebih tepatnya 12 tahun yang lalu. Aku mencari. Namun keadaan semakin lama semakin membingungkan. Aku mencoba untuk tidak mengeluh, tapi terkadang suatu peristiwa membuatku harus mengeluh. Terkadang aku merasa sangat lemah.

Saat aku tidak sedang berpikir, seperti ada orang lain yang menggerakkan pikiranku. Dia ada di pikiranku. Memaksaku untuk berpikir. Menerjemahkan kode-kode aneh yang beterbangan di alam. Terkadang aku tidak bisa fokus terhadap satu hal.

Aku pikir aku mengalami Skizofrenia akut. Ternyata bukan itu yang menjadi pembeda antara aku dengan yang lain.

Dan akupun menyadari bahwa aku adalah harapan. Akulah seorang sanguinis dengan "sesuatu" yang aneh. Aku tidak tau apa yang salah dariku atau apa yang terjadi pada diriku atau apa yang membuatku begini atau... . Banyak sekali pertanyaan yang muncul dari otakku hingga membuatku pusing. Tapi aku tetap mencintai diriku. Atas semua pertanyaan-pertanyaan menggangguku dan atas semua pikiran-pikiran konyolku. (Itu yang dikatakan setiap orang yang pernah bertemu denganku).

****
Apakah ini sebuah imajinasi atau kenyataan? Aku tidak menginginkan semua orang mengerti dan memahami keadaanku. Itu malah membuatku semakin terlihat lemah.

Terinspirasi dari sebuah kisah nyata seorang gadis yang sampai detik ini masih menyimpan dengan rapih impian terbesarnya.


Senin, 20 Mei 2013

Kalian, Anugerah Terindah.

Diposting oleh Tita di 08.49 0 komentar


Bersahabat baik dengan kalian adalah hal tergila dan terindah yang pernah gue rasakan. Gue gak tau, enam tahun lalu pas ketemu kalian itu anugerah atau mimpi buruk :p

Tapi dengan adanya kalian dihidup gue, seketika dunia gue berubah. Gue pikir hidup itu cuma ada hitam dan putih. Tapi kalian bawa warna kuning dihidup gue.

Maaf ya gue belum bisa kasih tau semua yang ada dihidup gue. Apa aja yang gue punya, apa aja yang gue mau, dan apa aja yang gue rasa. Takutnya kalian malah berasa kayak ada di film science fiction gitu :p.. Mungkin kalo udah waktunya, kalian bakal tau keabstrakan tersebut. Tapi it’s oke lah :) gue bangga banget punya kalian dihidup gue. Kalian yang ngajarin gue apa artinya hidup... Hidup itu... Yang penting happy. Setiap saat, dimanapun, kapanpun, yang penting kita sama-sama dan bisa tertawa lepas.

Kalian kangen ya sama gue? (PEDE berlebih). Gue juga kok...

Kenangan dan emosi waktu kita masih bareng-bareng tiba-tiba muncul begitu aja. Dan kalo itu terjadi gue cuma bisa mandangin langit sambil bilang “Gue kangen kalian”.

Biarpun kalian jauh, batin kita masih terus terhubung kok. Gue denger loh waktu kalian nyebut nama gue, waktu kalian ngomongin gue, bahkan waktu kalian kangen sama gue. Percaya gak? Kalo gak percaya yaudah :p

Maaf ya gue bukannya sombong. Gue cuma takut ganggu waktu kalian aja :”) Selebihnya gue gak bisa ngomong apa-apa lagi :”””””)

Mungkin tulisan ini udah mewakili kekosongan hati gue tanpa hadirnya kalian selama ini.
Eh, mampir atuh kerumah. Tahun ini tanggal 26 tanpa kalian adalah sangat menyedihkan :”)
Selamat berumur 18 tahun buat kita semua. Semoga diberikan keberkahan, kesehatan, dan yang baik-baik pokoknya. Aamiin ya qobul.
I miss you, guys.. Mega dan Sarah :*

 

LIFE IN TECHNOCOLOR Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei